3.2.a.4. Eksplorasi
Konsep - Modul 3.2
Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Oleh : Edy Siswanto
CGP Ang 9 SMKN 4
Kendal
1. Apabila kita menganggap sebuah sekolah adalah sebuah ekosistem dengan
faktor biotik dan abiotik yang ada di dalamnya, maka faktor-faktor apa
saja yang termasuk dalam kelompok biotik dan abiotik?
2. Bagaimanakah seharusnya seorang kepala sekolah berperan dalam mengelola
ekosistem sekolahnya?
3. Kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah
sebagai pemimpin ekosistem sekolah?
4. Apa yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah dalam mengelola
sumber daya sekolah secara efektif dan efisien?
5. Seberapa besar dampak sumber daya (fasilitas) yang sekolah miliki untuk
memfasilitasi proses pembelajaran murid saat ini? Jelaskan!
6. Sejauh mana sumber daya sekolah yang kita miliki sudah kita gunakan
secara efektif untuk mendukung kualitas pembelajaran di sekolah? Jelaskan!
7. Adakah cara alternatif yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan sumber
daya yang sudah ada demi meningkatkan kualitas pembelajaran murid?
8. Sudahkah sekolah memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar?
Bagaimana pemanfaatannya?
2. Kepala sekolah memiliki peran sebagai
pemimpin di sekolahnya dan bertanggung jawab dan memimpin proses pendidikan di
sekolahnya, yang berkaitan dengan peningkatan mutu sumber daya manusia,
peningkaan profesionalisme guru, karyawan dan semua yang berhubungan
dengan sekolah dibawah naungan kepala sekolah.
3. Kepala sekolah memiliki kemampuan dalam
membimbing dan memfasilitasi perbaikan proses belajar mengajar
yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta
pengelolaan kelas.
4. Yang dilakukan kepala sekolah
dalam mengelola sumber daya sekolah supaya efektif dan efisian adalah membuat
daftar kekuatan atau kelebihan yang dimiliki sekolah, dari sumber daya manusia
Guru dan Murid dan sumber daya fasilitas sebagai pendukung salam proses
pembelajaran, selanjutnya membuat rancangan atau rencana terhadap aksi nyata
pemanfaatan sumber daya sekolah dengan efisien, selanjutnya pelaksanaan aksi
nyata dan selalu di pantau, setelah itu di lakukan refleksi untuk memperbaiki
kekurangan pada aksi nyata sehingga pada aksi nyata selanjutnya lebou efektif
fan efisien.
5. Sumber daya fasilitas sangat
berperan penting dalam keberhasilan kegiatan pembelajaran di sekolah, walaupun
untuk kasus tertentu seperti bahan atau alat pembelajaran kita bisa
memanfaatkan sumber daya lokal yang ada, bila memang sekolah belum sanggup
untuk menyiapkan fasilitas yang sebenarnya.
6. Sumber daya sekolah yang dimiliki
belum begitu efektif, karena mungkin pembelajaran daring yang lama, sehingga
banyak alat bahan atau fasilitas sekolah yang terbengkelai, sehingga sekarang
butuh pemulihan untuk bisa layak dipakai kembali.
7. Cara alternatif dengan
memanfaatkan sumber daya lokal untuk mengganti alat dan bahan dalam
pembelajaran. Hal ini selain membutuhkan kreativitas, juga mengajak murid-
murid kita untuk menggali sumber daya lokal yang ada.
8. Sudah sebagian, kebetulan saya
Guru Biologi, sering mengajak murid untuk memanfaatkan yang ada di sekitar
untuk pembelajaran.
Eksosistem merupakan sebuah tata interaksi antara
makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah
ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah
teritorial atau lingkungan tertentu.
JIka diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah
adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan
abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama
lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam
ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan
keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam
ekosistem sekolah di antaranya adalah:
Ø Murid
Ø Kepala Sekolah
Ø Guru
Ø Staf/Tenaga Kependidikan
Ø Pengawas Sekolah
Ø Orang Tua
Ø Masyarakat sekitar sekolah
Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan,
faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan
proses pembelajaran di antaranya adalah:
Ø Keuangan
Ø Sarana dan prasarana
Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based
Thinking) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang
kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan
cara pandang negatif. Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau
yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama,
secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak
nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan
peluang yang ada di sekitar.
Pendekatan berbasis aset (Asset-Based
Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang
ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan
diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali
hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai
tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja,
yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.
Berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan |
Berbasis pada aset |
Fokus pada masalah dan isu |
Fokus pada aset dan kekuatan |
Berkutat pada masalah utama |
Membayangkan masa depan |
Mengidentifikasi kebutuhan
dan kekurangan – selalu bertanya apa yang kurang? |
Berpikir tentang kesuksesan
yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut. |
Fokus mencari bantuan dari
sponsor atau institusi lain |
Mengorganisasikan kompetensi
dan sumber daya (aset dan kekuatan) |
Merancang program atau proyek
untuk menyelesaikan masalah |
Merancang sebuah rencana
berdasarkan visi dan kekuatan |
Mengatur kelompok yang dapat
melaksanakan proyek |
Melaksanakan rencana aksi
yang sudah diprogramkan |
(Green & Haines, 2010)
Sejarah singkat pendekatan ABCD
(Asset-Based Community Development
Asset-Based Community
Development (ABCD) yang selanjutnya akan
kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu
kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana
keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University. ABCD
dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh
anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari
lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan
(Kretzman, 2010).
Pendekatan Pengembangan
Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan
konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan
kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut
menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat
menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa
bergantung dengan pihak lain.
Pendekatan Pengembangan
Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir
mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas,
kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas.
Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari
kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan
PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang
dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi
lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah
jalan untuk menciptakan warga yang produktif.
Pendekatan Pengembangan
Komunitas Berbasis Aset menekankan kepada kemandirian dari suatu
komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan
bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan
demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi.
PKBA sebagai Pendekatan yang Dibantu oleh Pihak Luar
Pendekatan PKBA merupakan
pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah
komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di
dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven
Development’ (Cunningham, 2012) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan
yang dibantu oleh pihak luar. Penjelasan yang ada sebetulnya ditujukan
untuk pengembangan masyarakat, namun tetap bisa kita implementasikan pada
lingkungan sekolah karena sebetulnya adalah miniatur sebuah tatanan masyarakat
di suatu daerah.
1. Perubahan masyarakat yang
signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan
perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga
sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan
terjadi.
2. Warga masyarakat akan
bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai. Dengan demikian
setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.
3. Membangun dan membina hubungan
merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang
sehat. Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti
hubungan guru-guru, guru–kepala sekolah, guru–murid–guru, guru–staf sekolah–guru, staf sekolah–murid–staf sekolah, ataupun kepala sekolah–murid–kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang
sehat dan inklusif.
4. Masyarakat tidak pernah
dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah.
Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya-
sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang
ada. Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi,
dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang
tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah
ada.
5. Kekuatan sekolah berbanding
lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada
tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan
aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik.
6. Dalam setiap unsur sekolah,
pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan
“bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil
dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya
ini mendorong energi dan kreativitas.
7. Menciptakan perubahan yang
positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara
bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu
tindakan.
8. Suasana yang menyenangkan harus
merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun
sekolah.
9. Faktor utama dalam perubahan
yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan
kepemimpinan itu secara terus menerus.
10.Titik awal perubahan selalu
pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.
Dalam
mengatasi tantangan pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi
permasalahan perkotaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih
menekankan pada kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas,
Kretzmann dan McKnight menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas
adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan
pedesaan .
Menurut
Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community
development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai
modal utama, yaitu:
1. Modal Manusia
Ø Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia
menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan,
kesejahteraan, dan harga diri seseorang.
Ø Pemetaan modal atau aset individu merupakan kegiatan menginventaris pengetahuan,
kecerdasan, dan keterampilan yang dimiliki setiap warganya dalam sebuah
komunitas, atau dengan kata lain, inventarisasi perorangan dapat dikelompokkan
berdasarkan sesuatu yang berhubungan dengan hati, tangan, dan kepala.
Ø Pendekatan lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang berhubungan dengan kemasyarakatan, contohnya kecakapan memimpin sekelompok orang, dan kecakapan seseorang berkomunikasi dengan berbagai kelompok. Kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, contohnya kecakapan dalam mengelola usaha, pemasaran, yang negosiasi. Kecakapan yang berhubungan dengan seni dan budaya, contohnya kerajinan tangan, menari, bermain teater, dan bermain musik.
2. Modal Sosial
Ø Norma dan
aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur pola
perilaku warga, juga unsur kepercayaan (trust) dan jaringan (networking)
antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat.
Ø Investasi
yang berdampak pada bagaimana manusia, kelompok, dan organisasi dalam komunitas
berdampingan, contohnya kepemimpinan, bekerjasama, saling percaya, dan punya
rasa memiliki masa depan yang sama.
Ø Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang bersifat formal maupun nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah berdasarkan keyakinan, kesamaan profesi, kesamaan hobi, dan sebagainya. Terdapat beberapa macam bentuk modal sosial, yaitu fisik (lembaga), misalnya asosiasi dan institusi. Institusi adalah suatu lembaga yang mempunyai struktur organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas masyarakat.
3. Modal Fisik
Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:
Ø
Bangunan yang bisa digunakan
untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan,
ataupun pelatihan.
Ø
Infrastruktur atau sarana
prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi,
sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.
4. Modal Lingkungan/alam
Ø Bisa berupa
potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya
pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup. Modal lingkungan terdiri dari
bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan
sebagainya.
Ø Tanah untuk berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil
dari pohon seperti kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa
digunakan kembali untuk menenun, dan sebagainya.
5. Modal Finansial
Ø
Dukungan keuangan yang dimiliki
oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan
dan kegiatan sebuah komunitas.
Ø Modal
finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan
pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.
Ø Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk-produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan.
6. Modal Politik
Ø Modal politik
adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang
atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara dalam
masalah umum yang terjadi dalam komunitas.
Ø Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air.
7. Modal Agama dan budaya
- Upaya
pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari
kebijakan praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga
kepercayaan, nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain.
- Kebudayaan
yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide,
gagasan, norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia
yang hidup berkembang dalam sebuah ruang geografis.
- Agama
merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk
mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik
perilaku lahiriah maupun simbolik. Agama menuntut terbentuknya moral
sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.
- Identifikasi
dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat penting
untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan
dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang
berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya.
- Sangat
penting kita mengetahui sejauh mana keberadaan ritual keagamaan dan
kebudayaan yang ada di masyarakat serta pola relasi yang tercipta di
antaranya dan selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk
menunjang pengembangan perencanaan dan kegiatan bersama.
